Data dan Informasi Tentang Adat Jawa

DATA DAN INFORMASI

Dari data dan informasi yang tekumpul dikelompokkan sebagai berikut:

Kategori Umum

  1. Kebijakan Terkait
Belum Sudah Jumlah
16 10 26
62% 38% 100%

Dari 26 Kabupaten/Kota terlihat bahwa hanya 38% atau kurang dari 10 Kabupaten Kota yang sudah memiliki kebijakan terkait dengan pelestarian dan pengembangan adat istiadat  dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat, sedangkan 62% atau 16 Kabupaten /Kota belum memiliki kebijakan terkait dengan pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Masih tingginya presentase kabupaten dan kota yang belum memiliki kebijakan yang dimaksud menunjukkan bahwa masih rendahnya konsentarasi kabupaten/kota dalam mengatur dan mengelola pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat segi pembuatan kebijakan.

Belum adanya kebijakan di beberapa Kabupaten/Kota seperti di atas diakibatkan beberapa alasan yang cukup beragam atara lain; sedang dalam proses pembuatan, sedang menyiapkan draf SK Bupati tentang pembentukan kelompok kerja pelestarian dan pengembangan adapt istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat, belum menerima Permendagri tentang kerja pelestarian dan pengemangan adat istiadat  dan nilai sosial budaya masyarakat , kemudian masih mengandalkan pelaku budaya yang ada di daerah.

  1. Bentuk Kebiijakan (Jika Sudah)
Perda SK Bupati/Walikota SE Bup/Walkot Lain-lain Jumlah
3 4 1 6 14
21% 29% 7% 43% 100%

Lebh lanjut dapat diketahui banyak kebijakan yang telah ada di beberapa daerah yang memiliki kebijakan. 21 Persen dalam bentuk Peraturan Daerah, 29 Persenn dalam bentuk SK Bupati atau Walikota, 7 Persen dalam bentuk SE Bupati atau Walikota, dan 43 Persen dalam bentuk Lain.

  1. Bentuk Program Kebijakan

Dari Kebijakan yang ada maka daerah mengimplementasikan dalam bentuk Program-program daerah yang mendukung pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat. Program antar daerah, festival kesenian daerah, seminar kebahasaan, kemah budaya, padat untuk program pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat.

  1. Penghabat
Dana&sarana Lain-lain Jumlah
6 2 8
75% 25% 100%

Untuk Faktor penghambat dalam pelaksanaan program ialah rendahnya dana dan terbatasnya sarana yang ada sebesar 75 persen. Terbatasnya dana atau anggaran dan terbatasnya sarana diakui oleh beberapa daerah telah menghambat pelaksanaan program  pelestarian dan pengembangan adat-istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat. Kemudian 25% menunjuk faktor penghambat lain dalam pelaksanaan program, faktor tersebut seperti faktor heterogenitas dan belum adanya perda sebagai landasan hukum dalam membuat SK, Juklak, Juklis, terkait pelaksanaan program pengembangan nilai-nilai adat dan budaya lokal.

5. Peran Badan/Dinas/Kantor, Bagian Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota

Fasilistator Pembinaan&Mentoring Lain0Lain Jumlah
6 15 2 23
26% 65% 9% 100%

Dalam pengembangan dan pelestarian adat-istiadat dan nilai nilai sosial budaya lokal Badan/Dinas/Kantor/Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota berperan dalam beberapa bentuk antara lain, sebagian besar berperan dalam pembinaan dan mentoring yang ditunjukkan dengan presentase 65%. Selain itu juga berperan sebagai Fasilitator dalam kegiatan masyartakat yang ada dengan prosentase sebesar 26 persen. Sedangkan 9 persen merupakan peran lain seperti perlindungan terhadap bangunan kuno yang ada di daerah.

6. Eksistensi Nilai adat Istiadat dan Budaya Lokal

Ada Tidak Jumlah
26 0 26
100% 0% 100%

Dari data di atas menunjukkan semua daerah memiliki eksistensi adat istiadat dan budaya lokal. Adapun banyak bentuk nilai adapt istiadat dan budaya lokal yang ada di Jawa tengah. Bentuk nilai adat ini berbeda beda pada tiap daerah kabupaten/Kota, seperti disajikan dalam table sebagai berikut:

Kab. bnjarnegara Nyadaran, Ruwat Bumi, Ujungan, Ruwatan Rambut Gembel
Kab. Banyumas Nyadran, Selapanan, Bersih Desa, Sekaten, Dll
Kab. Batang Khaul, Ziarah, Sungkeman, Shilaturahmi, Tradisi Jum’at kliwon,
Kab. Blora
Kab. Demak Slametan, Sambatan, Resik Desa, Bedol Desa, Sedekah Bumi, Apitan, Syawalan, Gubeg Besar, Ruwatan Masal, Sholawatan
Kab. Grobogan Asrih Batin, Siraman Gende Becak
Kab. Jepara Pesta Lomban, Perang Obor, jembul Tulakan, Tong Tong JI
Kab. Kendal Upacara Daur Hidup, Upacara Komunal, Upacara Ritual
Kab. Kudus Cerita Rakyat, permainan rakyat, Upacara tradisional
Kab. Magelang Acara Kelahiran, Perkawinan, Peringatan Bulan Jawa, Ritual masyarakat
Kab. Purworejo Labuhan Laut, Rejeban, Ruwatan, Jolenan, Baridaqn, Jamasan, Suran, Nyadran, Padusan
Kab. Tegal Sedekah Bumi, Sedekah Laut, Upacara Ziarah di beberapa tempat
Kab. Temanggung Bersih Desa, Sadranan
Kab. Wonosobo Gotong Royong, Sambatan, Nyadran, Iuran, Meri Desa, Suran, Cukur Rambut Gembel, Upacara Adat Pengentin Jawi, Kiraban Sunatan, dll
Kota Magelang Bayi: Mitoni, Tingkeban, Tedak siti, Orang meninggal: Peringatan satu hari, tiga hari, empat puluh harai, seratus hari, seribu hari.
Kota Salatiga Guyub Rukun, Gotnong royong, Patuh Pada Larangan Leluhur
Kab. Karanganyar Dukutan, Mondosio, Jabareka, Julungan, Wahyu Kliyu, Hari Saraswati
Kab. Boyolali Nyadran, Sedekah gunung, Buka Luwur, Saparan, Padusan, Ruwatn, Tumpak Punjen, Upacara Mantenan, Merti Desa
Kab. Kebumen Merti Bumi (Berkenan dengan panen), Peringatan hari besar keagamaan
Kab. Cilacap Kenduren, Jabelan, Sedekah Bumi, Sedekah Laut,m Mbarang Gawe, Masang Sajen, Kaawulan, Ruwqatan, Ngapati, Mitoni, Berjanjen, Selapanan
Kab. Rembang Sedekah Bumi, Sedekah laut, Upacara adapt pengenten, khitanan, upacara Sapi, Slametan Dalam Kematian, Budaya Syawal, Penjamasan Bende Becak, Tedhak siti
Kab. Klaten Yakowiyu, Sadranan, Syawalan, Bersih Desa, Padusan
Kota Surakarta Budaya Lokal Jawa
Kab. Sukoharjo Upaca Tujuh Bulanan, Upacara Metik, Peringatan orang meninggal, Muludan, Ruwahan
Kab. Wonogiri Susuk Wangan, Sedekah Bumi, Labuhan, Jamasan pusaka, Ruwatan, Besih desa, Bersih Telaga
Kota Tegal Pengajian, Takjizah, Taklilan, Gotong Royong
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

peran anak muda

PEMBANGUNAN PARIWISATA BAB I A.

PENGANTAR

1. Kondisi Pariwisata Indonesia ~ Digarap secara intensif baru tahun 1960an ~ Tahun 1960, Indonesia mendapat pampasan perang dari Jepang ~ Ada dana sebagian disisihkan untuk pariwisata ~ Dibangunlah hotel (a.l Hotel Indonesia, Hotel Bali Beach, Hotel Samodra Beach) Baru tahun 1963an di bangun Ambarukma Hotel 2. Karena Dibangun Hotel ~ Pengertian pariwisata dikenal sebagai perhotelan ~ Tahun 1963, dibangun panggung Prambanan untuk Balet Ramayana, yang kemudian terkenal dengan nama Sendratari Ramayana ~ Gagasan balet Ramayana di ilhami oleh pentas di depan Kuil Angkor Wot di Cambodia. Penggagas GPH Djati Koesoemo, Menteri Perhubungan dan Pariwisata ~ Pariwisata menjadi wisata budaya (dalam arti sempit) yakni kesenian ~ SDM Kepariwisataan waktu itu hanya hotel dalam pendidikan in service training (sekalipun namanya National Hotel Institut), jadi hanya kursus ketrampilan dasar ~ Akibatnya setelah 20 tahun, SDM hasil didikan itu yang bersifat ketrampilan, tidak mampu berinovasi kreatif dan dinamis, dalam mengelola hotel-hotel ~ Akibatnya hotel Natour, Hotel Indonesia yang dimiliki Pemerintah, tidak mampu berkembang, bangkrut, dijual, atau ditutup, dsb a. SDM Kepariwisataan ( hotel ) hanya trampil, bukan akademik b. Kebijakan yang salah c. Pariwisata juga dalam pengertian terbatas  Sampai tahun 2008 pariwisata Indonesia tertinggal dengan negara tetangga  SDM belum dipikirkan secara serius  Pariwisata digarap secara amatiran  Tidak mampu bersaing B. PEMBATASAN 1. Untuk membahas pembangunan ( development ), maka pembahasannya tidak dapat dipisahkan dengan fungsi perencanaan ( planning ) dan pengelolaan ( management ). Rumusnya : D = Development P = Planning M = Management f = Function 2. Dengan pemahaman ini, maka jelas bahwa : Pembangunan ( development ) akan selalu berhubungan dengan : a. Perencanaan b. Pengelolaan 3. Fungsi perencanaan dan pengelolaan menjadi penting, dan harus diperhatikan apabila tidak ingin pembangunan pariwisata mengalami kegagalan dan pemborosan 4. Planning menyangkut planning : ~ Distinasi ( destination ) ~ Atraksi ( tourist atraction ) ~ Fasilitas ( facilities ) ~ SDM ( human resources ) ~ Kedatangan wisatawan ( tourist arrival ) ~ Tourist tour operation ~ Entertainment dsb 5. Pengertian manajemen, adalah bagaimana secara integral ( bukan partial ) komponen – komponen perencanaan di integrasikan dan dokelola secara integral, kreatif, dinamis dan inovatif 6. Dengan planning dan management yang fungsinya jelas, maka development dapat diimplementasikan berdasarkan masukan dari perencanaan dan pengelolaan yang benar, akan tercipta pembangunan pariwisata yang berhasil. 7. Dengan penekanan ini, maka yang dimaksud : C. CAKUPAN 1. Dalam percaturan dunia pariwisata di Asia Timur dan Pasifik : ~ Indonesia negara baru pariwisata ~ Baru tahun 1984 dikenal dunia ( kecuali Bali ) ~ Kalau negara industri dikenal produknuya. Negara baru pariwisata, bagaimana mengeksport pelayanan yang baik 2. Akibat pemikiran itu, maka cakupan pembangunan pariwisata meliputi : ~ transport ~ guide ~ hotel ~ restoran ~ obyek ( distinasi ) ~ sarana prasarana ~ atraksi ~ fasilitas ~ entertainment ~ cendera mata, dsb 3. Dengan pemahaman di atas, maka cakupan pembangunan pariwisata, akan mencakup : Dengan dukungan : 4. Pariwisata tidak boleh digarap secara partial, tetapi harus integral. Yang perlu diperhatikan : ~ Egois sektoral ~ Arogansi institusional ~ Koordinasi, sinkronisasi ~ Lintas batas D. HARAPAN 1. Pembangunan pariwisata selalu berhubungan dengan perencanaan.Oleh sebab itu, design perencanaan harus jelas dan detail, tentu saja berdasarkan studi kelayakan yang ada. 2. Dengan perencanaan yang baik, maka tingkat aplikasi pembangunannya menjadi baik, sejauh didukung : ~ sarana dan prasarana ~ fasilitas pendukung ~ memperhitungkan dampak (lingkungan, sosialisasi, budaya, ekonomi, hankam, dsb ) 3. Dengan pembangunan yang baik, harapan yang ingin dicapai adalah pengelolan yang : ~ Profesional ~ ahli ~ dinamis ~ kreatif ~ inovatif 4. Pembangunan pariwisata tanpa dilelola oleh tangan yang ahli, profesional, dinamis, kreatif dan inovatif, yang lahir hanya : pemborosan, ketidakberhasilan, kerugian, dan berdampak negatif 5. Jadi SDM kepariwisataan menjadi komponen dominan di samping komponen pendukung lainnya.

BAB II PEMBANGUNAN PARIWISATA HARUS BERSIFAT PERSPEKTIF A. HAKIKAT PEMBANGUNAN PARIWISATA 1. An inner voice tells us, we are wrong, if we are idle ( Tolstoy, 1981 ) 2. Ucapan ini harus menjadi daya dorong pembangunan pariwisata, bahwa ketidakberhasilan pembangunan pariwisata, sebab utamanya karena kita idle ( malas ) Itu : “ An inner voice tells us “, suara hati kita yang menya-takan kepada kita 3. Untuk membangun suatu kegiatan pariwisata, kita harus berpeluh, kerja keras, kreatif, dinamis dan inovatif. Sebab betapapun usaha kita tidak akan berhasil kalau kita masih “ idle “ masih “ malas “ 4. Pariwisata adalah salah satu sektor yang tingkat keberhasilan pembangunannya, banyak tergantung pada komponen dan variabel yang lain dalam pembangunan pada umumnya. 5. Tourism has grown with the creation of the commercial sector. (William F. Theobold, 1994) 6. Pariwisata pada milenium ketiga atau abad XXI, telah menjadi industri dunia. WTO meramalkan bahwa ditahun 2010, akan ada gerakan wisatawan dunia lebih dari 1 Milyar orang wisatawan. Asia Timur dan Pasifik, yang di dalamnya ada Indonesia, akan menyerap sekitar 17% 7. Pariwisata pada saat ini menjadi “roti” yang diperebutkan negara-negara. Di ASEAN saja, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, juga boleh ikut merebut “roti” pariwisata. Indonesia tidak boleh tinggal diam, dengan potensi atraksi yang melimpah ruah. 8. Harus diakui, bahwa bersamaan dengan pertumbuhan pariwisata, muncul kritik-kritik, antara lain : ~ dampak gaya jidup ~ kesiapan masyarakat daerah DTW ~ lingkungan ( sosek, budaya, hankam, tenaga kerja, dsb ) ~ tuntutan ahli ~ prospek ke depan ~ keuntungan yang didapat 9. Pembangunan pariwisata di berbagai propinsi seperti : Bali, Medan, jateng, D.I Yogyakarta, Jatim, dsb juga menuai kritik 10. Sayang, kritik – kritik itu kurang direspon, sehingga penentu kebijakan dan pengambil keputusan, tidak menentukan solusinya B. PENGERTIAN PARIWISATA 1. Agar lebih memahami hakikat pembangunan pariwisata maka dikutipkan apa yang disebut pariwisata itu, yakni : a. Tourism is is an activity that individual do and usually enjoy. ( Sthephen L.J. Smith, 1977 ). Yang artinya : Pariwista adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh orang dan biasanya dirasakan menyenangkan. b. Tourism is freedom to travel should no longer be viewed as an absolut good, to be pursued at all cost but as are relativite good to be restrained when it prejudices either more important goal. ( Georger Young, 1973 ). Yang artinya : Pariwisata adalah kebebasan melakukan yang hendaknya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak baik, yang mutlak diikuti biaya, melainkan hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang relatif baik, terkendali, apalagi jika dengan perjalanan itu diperkirakan ada tujuan – tujuan lain yang lebih penting c. Jadi esensi pariwisata, adalah aktivitas seseorang dalam melakukan perjalanan, untuk melihat sesuatu. Oleh sebab itu Richard Buttler, menegaskan bahwa : pariwisata itu pada dasarnya merupakan fenomena kehidupan modern. Oleh sebab itu perjalanannya dapat dengan tujuan keagamaan, pendidikan, pengobatan, bahkan hanya untuk melihat pertujukan yang ditemukan di sepanjang sejarah kemanusiaan. ( Richard Butler and Douglas Pearce, 1975 ). d. Ada lagi ahli yang mengatakan bahwa pariwisata adalah segala sesuatu yang berurusan dengan semua wisatawan yang berkenan mengunjungi luar daerah, baik untuk kesenangan, bisnis maupun keduanya. ( Peter E. Murphy, 1985 ) 2.Atas dasar pemahaman diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pariwisata adalah kegiatan seseorang untuk menikmati bukan saja keindahan alam, atau memperlancar bisnisnya, akan tetapi juga merupakan kegiatan menyaksikan budaya, olah raga, keagamaan, kesehatan, dan minat-minat khusus yang dipilihnya. ( Soetomo. WE, 1991 ) 3.Jadi kegiatan pariwisata baru, dalam perkembangannya bukan karena waktu luang saja, akan tetapi setiap waktu dan sifatnya dapat : ~ Melakukan bisnis ~ Olah Raga ~ Kesehatan ~ Seminar ~ Spiritual ~ Minat Khusus ~ Kebudayaan ~ Konvensi 4. Akibat lebih lanjut maka lahir dalam dunia pariwisata MICE yaitu : Meeting Invitation Convetion Exibition 5. Dalam perkembangan baru, bahwa pariwisata yang semula menitikberatkan pada waktu luang telah berubah, dengan waktu kapan saja, karena : 6. Akibat perkembangan pariwisata, maka gerakan pariwisata juga berubah dari : massal ke 7. Dari dasar pemikiran di atas, maka usaha pembangunan pariwisata harus memperhatikan hal-hal di atas, mampu membaca peta pariwisata yang : Dalam penyajian atraksinya berarti : Yang designnya tentu saja berbeda. 8. Yang dimaksud minat khusus, dapat diartikan : ~ khusus minatnya ~ khusus atraksinya ~ khusus nuansanya ~ khusus pelayanannya Misalnya : khusus untuk : ~ anak – anak ~ remaja ~ dewasa ~ manula Jadi bidangnya : olah raga, marine, hunting, permainan, atarksi budaya, pengobatan alternatif, dan sebagainya. 9. Dengan perhatian di atas, maka berarti dalam perencanaan pembangunan pariwisata harus memperhatikan hal–hal itu, disamping design detailnya yang : ~ diversitas ~ memperhatikan jarak tempuh wisatawan ~ aneka ragam atraksi yang menarik ~ kelengkapan fasilitas penunjang, pendukung, (restoran, sovenir, air bersih, komunikasi, kesehatan P3K, guide, alat-alat pengaman, dan berbagai ragam kebutuhan pariwisata sebagai usaha memberikan pelayanan yang prima. 10. Modelnya : C. PENDEKATAN 1. Kajian perspektif pembangunan pariwisata hendaknya digarap dengan pendekatan sistem. 2. Pendekatan ini analisis frameworknya mengajarkan kepada kita, bahwa dalam proses pembangunan pariwisata, banyak komponen dan variabel yang satu dengan yang lain memiliki interelasi dan interaksi 3. Oleh karena proses interelasi dan interaksi saling terkait, tingkat keberhasilan outputnya, banyak bergantung pada kemampuan kita menyingkirkan berbagai kendala (hambatan) yang ada dalam proses memadukan interelasi dan interaksi antara komponen / variabel, baik pendukung maupun penghambatnya. 4. Pendekatan sistem juga mengajarkan kepada kita, untuk bijak dalam menelaah input-output, instrumental input, drop out, dan feed back yang terus-menerus sebagai usaha meminimalisasikan berbagai hambatan yang menghadang, atau akan mengganggu tingkat keberhasilan proses pembangunan pariwisata. ( Davis I Clrerant and William R. King, 1970 ) 5. Adapun analisisnya dapat saja menggunakan metode : ~ kuantitatif ~ kualitatif 6. Alat bantu analisisnya dapat menggunakan : a. Inter – disipliner b. Antar – disipliner c. Multi – dimentional d. Experimental e. Komparatif f. Kausalitas ( kasus-kasus 7. Alat bantu analisis yang kita gunakan, memerlukan studi yang komprehensif, sebab keakuratan analisisnya akan sangat membantu : ~ Tingkat keberhasilannya ~ Tingkat kemampuan melihat masa depan ~ Tingkat kemampuan memahami berbagai aspek pembangunan pariwisata, yang ternyata sangat kompleks ~ Tingkat kemampuan menyingkirkan berbagai komponen dan variabel yang tidak mendukung, serta mampu memisahkan secara obyektif 8. Design Pembahasan BAB III POTENSI KEPARIWISATAAN INDONESIA A. SEBARAN POTENSI 1. Azas kemajemukan dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, telah memberikan pemahaman, bahwa Indonesia memiliki potensi pariwisata yang melimpah ruah. ( Alam, Budaya, dan Buatan ) 2. Potensi yang ada, apakah alami, budaya, buatan itu, tersebar di berbagai kawasan, dengan berbagai keunikan lokaknya, kearifan lokalnya, keaslian wujudnya, yang tersebar di daerah-daerah di seluruh Indonesia, apakah itu propinsi, kabupaten atau kota 3. Demikian pula potensi pariwisata minat khusus, dari marine, buatan, gua-gua, air terjun, prawan, budaya, kesenian, adat dan tradisi, spiritual, olah raga, kesehatan, bangunan arsitektur, tradisional, dari beteng, mesjid, kraton, rumah adat, dsb, tersebar di berbagai kawasan dalam keadaan unik dan natural, yang belum banyak disentuh tangan – tangan jahil. 4. Secara faktual pula, sarana-prasarana seperti jalan, jembatan, transport (darat, laut, udara) dengan dukungan pelabuhan samodra, bandara udara, terminal-terminal, serta fasilitas pendukung dari listrik, telekomunikasi, air bersih, unit kesehatan P3K, unit keamanan, unit pelayanan (biro perjalanan, guide,dsb) relatif tersedia dengan baik, sehingga sebenarnya dapat mendukung pembangunan pariwisata 5. Berbagai destinasi (daerah tujuan wisata) baik yang di Jawa (DKI, Jabar, Banten, DI. Yogyakarta, Jateng, Jatim) dan luar Jawa baik di Bali, Maluku, NTB, NTT, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, potensinya sangat baik, baik yang sudah digarap maupun yang belum disentuh penggarapannya. 6. Kondisi keamanan relatif kondusif, sekalipun ada “gangguan“ : ~ terorisme ~ isue penyakit (DB, Flu Burung, Kolera, dsb) ~ sikap masyarakat tertentu Tidak menyurutkan kegiatan pariwisata, karena kita mampu melakukan pendekatan familier sehingga hal- hal itu dapat diatasi 7. Potensi-potensi itu semua, sebenarnya secara perspektif, Indonesia dapat kaya raya, kalau kita mampu mengelola potensi itu dengan tangan ahli, profesional yang optimal 8. Sayang, dengan potensi yang melimpah ruah itu dan pola penggarapan yang masih bersifat amatiran, maka perkembangan pariwisata di Indonesia mengahdapi berbagai fenomena, yang perlu segera diatasi. 9. Kalau fenomena-fenomena pembangunan pariwisata di Indonesia tidak segera ditangani sepanjang sejarah kepariwisataan, kit atidak akan mampu “mencuri roti”. Pariwisata yang ada di depan mata kita, bahkan mungkin kita hanya akan dijadikan “atraksi” oleh negara-negara tetangga kita. B. FENOMENA YANG DIHADAPI INDONESIA 1. Dalam pembangunan pariwisata di Indonesia umumnya dan di propinsi-propinsi atau di kabupaten/kota khususnya, ada beberapa fenomena yang sangat mengganggu langkah pembangunan pariwisata. 2. Fenomena Pertama. Potensi pariwisata Indonesia yang sangat melimpah ruah, sangat besar, belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu saya, lebih suka menyebut “raksasa pariwisata yang masih tidur”. (Soetomo.WE, 1994) 3. Mengapa potensi yang melimpah tidak digarap secara optimal, sebab-sebab yang ada antara lain : a. Kemampuan finansial b. Kemampuan SDM c. Kemampuan perencanaan ( tidak kreatif, dinamis dan inovatif) d. Kesadaran masyarakat kurang e. Keseriusan pemerintah pusat, daerah, propinsi, kab/kota juga kurang f. Kebijakan pemerintah kurang mendorong pihak swasta pribumi 4. Dengan berbagai asumsi yang ada di atas, maka muncul fenomena kedua, yaitu penggarapan pembangunan pariwisata masih : ~ Bersifat partial ~ Tidak diversitas (kalau menggarap pantai, semua pantai) ~ Kurang memahami bahwa pariwisata adalah lintas batas, bisa lintas negara, dsb 5. Oleh karena pembangunan pariwisata kita, baik tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota masih bersifat amatiran, maka fenomena kitiga muncul, yaitu negara kita tertinggal dengan negara tetangga kita (Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dsb) 6. Mengapa kita tertinggal, sebab pola pikir bangsa ini masih terkotak-kotak, lebih mementingkan golongan, agama, partai, daripada kepentingan bangsa negara 7. Fenomena keempat, muncul berupa “penyakit” ~ egoisme struktural ~ arogansi institusional ~ koordinasi hanya “slogan” ~ sinkronisasi hanya “khayalan” Masih ada kelompok yang menghujat pariwisata, dan memandang pariwisata sebagai sesuatu yang “najis” dan harus ditiadakan kalau perlu dilarang dan dihapus 8. Sikap pola pikir yang dihinggapi “penyakit”egoisme sektoral, arogansi institusional, tidak mau koordinasi dan enggan sinkronasi, bukan saja menjadi penghambat, tetapi juga menjadi “momok” usaha pembangunan pariwisata di propinsi, kab/kota. Pemerintah pusat juga tidak mampu menanganinya. 9. Koordinasi yang hanya menjadi “slogan”, telah banyak mengahbiskan dana, tetapi aplikasinya “kosong mlompong” alias tidak ada apa-apanya. Sinkronisasi yang hanya “khayalan”, sebab selama sejarah perkembangan pariwisata, “penyakit sinkronisasi” itu hanya ada dalam “kamus”, akan tetapi tidak ada realitanya. 10. Fenomena kelima, bahwa sampai tahun 2008, tingakat kesadaran pemerintah pusat, propinsi, apalagi kabupaten dan kota tentang penggarapan pembangunan pariwisata, adalah sangat rendah. Hal ini dibuktikan bahwa penggarapan pembangunan pariwisata bersifat amatiran. Garapan seperti ini jelas tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik, melainkan hanya akan melahirkan spekulasi sebab tanpa studi kelayakan yang digarap ahlinya, maka yang lain hanya pemborosan belaka. Sekalipun ada beberapa distinasi atau atraksi wisata yang pembangunannya bersifat profesional, akan tetapi pada tingkat pengelolaan (manajemen), dipercayakan kepada seseorang yang hanya digarap “berpengalaman”, dianggap yang “berwewenang”, diberikan hanya karena “kepangkatan dalam jabatanya”, dan sedabainya, yang akibatnya prinsip dinamis, prinsip kreatif, dan prinsip inovatif, tidak diberlakukan lagi. Akhirnya distinasi atau atraksi wisata itu bukan makin maju, tetapi makin merosot, makin merugi, bahkan malah ada yang dijual kepada swasta, dsb 11. Fenomena keenam, adalah fenomena distinasi atau pembangunan pariwisata yang digarap oleh inisiatif Gubernur (PEMDA) yang kreatif, dinamis dan inovatif, ternyata tingkat pengelolaannya tidak disadari, bahwa SDM bawahannya tidak siap, tidak mampu, tidak profesional. Apalagi pembangunan pariwisata yang dilakukan PEMDA didasari otonomi, tanpa mempertimbangkan bahwa pariwisata itu lintas batas, akibatnya tingkat pengelolaan tidak mampu mengoperasionalisasikan, mandeg, dan tidak sesuai harapan penciptanya apakah Gubernur, Bupati / Walikota. Akibat lebih lanjut, maka distinasi / atraksi wisata hasil pembangunan itu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, sebab pola pengembangannya tidak integralistik 12. Fenomena ketujuh, banyak atraksi atau distenasi yang belum dapat disentuh, dibiarkan rusak, dibiarkan tidak terurus, dibiarkan terlantar. Hal ini terjadi karena ketiadaan : a. SDM yang ahli dan profesional b. Dana pembangunan c. Kreatifitas pemilik Tiga pilar yaitu SDM, dana, dan kreatifitas banyak yang tidak disadari oleh para penentu kebijakan dan pengambil keputusan. Hal ini karena otonomi daerah, reformasi yang keblabasan, sehingga penggarapannya bersifat partial dan regional.

C. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA INTERNASIONAL 1. Asia Timur telah cukup lama menjadi incaran wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan dari daratan Eropa dan Amerika 2. Ketertarikan itu karena kawasan di Asia Timur memiliki potensi yang “romantis”. Misalnya : kondisi pasir yang bersih, langit yang biru, iklim tropis yang baik, pohon palm yang indah, pasar yang ramai, timbunan jerami yang asyik, wanita-wanita dengan pakaian tradisionalnya, serta budaya Asia yang eksotik. 3. Oleh karena adanya elemen-elemen itulah maka kawasan itu dijadikan wahana promosi pariwisata dunia yang andal dan menarik 4. Kawasan Asia Timur seringkali juga terkenal dengan nama kawasan Asia Pasifik, yang memiliki kombinasi atraksi wisata daratan dan lautan, yang mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan itu. 5. Dengan ketertarikan terhadap kawasan itu, maka banyak wisatawan mancanegara yang datang kesana, lebih-lebih setelah perang dunia II. Dengan adanya perhatian itu, maka sejak tahun 1960an kawasan Asia Pasifik telah menjadikan pariwisata sebagai andalan pembangunan ekonomi negara-negara di kawasan itu. Pariwisata telah dijadiakn tiang penopang pertumbuhan ekonomi yang terpanjang dalam sejarah modern. Di kawasan Asia Pasifik menjadi pasar pariwisata yang paling pesat, dan telah mengantar pertumbuhan dan perkembangan ekonomi bangsa

D. KONDISI KEPARIWISATAAN INTERNASIONAL 1. Untuk mampu memahami perkembangan pariwisata di kawasan Asia Pasifik, maka studi banding adalah suatu pendekatan yang digunakan. Studi banding menjadi sangat penting, karena dengan kegiatan itu, kita akan mampu melihat perkembangan pariwisata di suatu kawasan atau negara tertentu, serta dibandingkan dengan perkembangan di kawasan atau negara lain 2. Dalam catatan dunia, kawasan Asia Pasifik, adalah kawasan yang memiliki dinamisme pariwisata yang paling tinggi. (Urry, 1990:48). Sarjana ini juga menegaskan bahwa kegiatan pariwisata adalah kegiatan yang bersifat temporer dan juga global. Oleh sebab itu mampu memahami perkembangan pariwisata internasional, diperlukan referensi perubahan ekonomi dan perkembangan pariwisata di kawasan Asia Pasifik 3. Pertumbuhan ekonomi di sepanjang Asia Pasifik, ternyata juga diwarnai oleh sumbangan sektor pariwisata, sebagai akibat meningkatnya arus perjalanan pariwisata internasional ke kawasan itu. Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan pariwisata. Pertumbuhan pariwisata signifikan sebagai kontributor atau penyumbang pertumbuhan ekonomi, terhadap kondisi sosial, budaya, politik, lingkungan dsb. 4. Untuk memahami kondisi itu, maka banyak orang menyebut perlunya memahami “lingkar pasifik” yang trend nya ditentukan berbagai faktor-faktor. Faktor-faktor yang menentukan trend pariwisata 5. Observasi Mrtin dan Mason (1987:112), menegaskan bahwa trend pariwisata ditentukan oleh empat faktor diatas. Faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan, karena keberadaannya saling ketergantungan dan saling berhubungan atau interelasi dan interaksi. Faktor-faktor diatas adalah suatu pola yang pada gilirannya akan menentukan tersedia tidaknya pendukung pertumbuhan dan pengembangan pariwisata di suatu kawasan atau Daerah Tujuan Wisata (DTW). 6. Faktor politik seringkali menjadi faktor yang dominan dan sangat penting. Faktor politik dapat menentukan pola perjalanan wisata kesuatu DTW dapat terjadi penurunan drastis terhadap kunjungan wisatawan internasional. Misalnya : instibilitas politik, seperti adanya sweeping, terorisme, bom, demonstrasi, perang sipil, dsb 7. Faktor ekonomi juga menjadi penting dalam perkembangan trend pariwisata. Kondisi ekonomi suatu negara akan menjadi “gangguan” yang dapat menurunkan trend pariwisata ke suatu DTW 8. Faktor lingkungan juga seringkali menjadi pertaruhan, misalnya lahirnya pencemaram, kebakaran hutan, adanya wabah penyakit, keamanan, dsb akan sangat mempengaruhi minat wisatawan ke suatu DTW 9. Faktor sosial juga tidak kalah pentingnya. Keramahtamahan, nilai pergaulan, sikap masyarakat, pandangan hidup, etika, keyakinan agama, akan menjadi kendala yang besar apabila tidak mampu dikendalikan. 10. Faktor budaya akan menjadi penghalang bagi perkembangan budaya. Perbedaan cara pandang, keindahan kesenian aneka ragam budaya, merupakan daya tarik tersendiri 11. Faktor teknologi, di era global menjadi sangat penting. Lahirnya pesawat badan besar, teknologi komunikasi, komputer, kapal-kapal pesiar, telah memberikan warna yang jelas terhadap perkembangan dan pertumbuhan dunia kepariwisataan. 12. Tegasnya keempat faktor tersebut tidak dapat dipisahkan. Secara akumulatif akan saling berhubungan dan seringkali lahir kombinasi antar faktor yang akan mampu menggarap perkembangan dunia kepariwisataan di suatu kwasan DTW 13. Wilayah lingkar pasifik adalah luas, fenomena tiap negara berbeda, tetapi merupakan bagian komunitas yang paling berhubungan. Kelompok negara dalam lingkup pasifik adalah Cina, Korea, Jepang, Hongkong, Taiwan, sebagai kawasan utara, sedangkan ASEAN, yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand. Sementara Birma, Laos, Cambodia, Vietnam, menjadi pendatang baru. Selain dari itu yang masuk lingkar pasifik adalah Australia, New Zealand, dan negara-negara kecil di Pasifik Selatan Kanada, Amerika, menjadi anggota penting lingkar pasifik. Kepulauan Hawaii yang merupakan bagian juga dari lingkar pasifik. Selanjutnya negara-negara Amerika Tengah, dan Selatan tidak dalam pembahasan ini. E. PERKEMBANGAN DI ASIA PASIFIK 1. Penandatanganan perjanjian perdamaian diatas geladak kapal USS Missouri pada tahun 1945, telah mengakhiri perang Pasifik. Dengan kekalahan Jepang itu, maka lahirlah “era Asia Pasifik” yang mulai menjadi perhatian negara-negara yang ada di kawasan itu. Kekalahan Jepang yang berambisi, menimbulkan paradoksi karena setelah beberapa tahun dari perang Pasifik itu, Jepang telah menjadi kekuatan ekonomi di kawasan itu. Kondisi lebih jauh muncul nasionalisasi Pasifik, dan masuknya negara asing dalam wilayah itu, baik untuk kepentingan ekonomi, pertahanan, dan lain-lain. 2. Pertumbuhan ekonomi sepanjang Pasifik, dan Asia Timur khususnya ASEAN, merupakan pertumbuhan ekonomi yang paling dinamis lebih dari 40 tahun (Bollard, Holmes, Kersey, dan Thomson, 1990). Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% pertahun. Akibat lebih lanjut lahir pergeseran perdagangan. Ekonomi internasional Amerika Utara bergeser, Jepang dan Asia mulai memasuki Eropa, dan Kanada melai menyerbu negara-negara Timur. Jepang adalah negara Asia pertama yang telah menjadi negara industri. Tahun 1980 ekonomi Jepang didukung oleh pertumbuhan eksport. Pada tahun 1980-1990, terjadi ekspansi ekonomi ke pasar-pasar domestik. Negara-negara Asia pertumbuhan ekonominya cukup tinggi. Bank pembangunan Asia menyebut angka 25 negara yang pertumbuhannya mencapai 7,2 % pertahun 3. Pertumbuhan ekonomi merupakan elemen perkembangan dan pertumbuhan pariwisata. Pertumbuhan pariwisata telah menjadi penyederhanaan atas sebuah sejarah yang kompleks. Dengan memahami pariwisata, menjadi wahana penting untuk memahami pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. 4. Negara-negara yang ada di kawasan Pasifik diwarnai diversitas yang beraneka ragam. Kediversitasan kawasan itu menjadi trend dan tanda-tanda, bahwa dalam waktu setengah abad, telah muncul istilah baru yaitu komunitas Pasifik Jalur Lingkar Pasifik dan Laut Pasifik di tahun 1970 5. Pertumbuhan ekonomi Jepang dan negara Asia lainnya, re-orientasi Australia dan New Zealand terhadap tetangga utaranya, adanya pergeseran perdagangan Amerika Utara dan Eropa menuju Asia Timur, telah mengantar ketergantungan politik antara negara-negara di sepanjang jalur Pasifik 6. Asal mula ide “Jalur Pasifik” adalah dalam pertemuan di Tokyo. Sebro Okita, seorang ekonom Jepang mengusulkan agar lima negara yang paling unggul di Pasifik yaitu : Amerika, Kanada, New Zealand, Australia, dan Jepang membentuk Perdagangan kawasan Pasifik (PAFTA), pada tahun 1960 7. Ide itu memiliki dampak akademis, diplomatik dan lainnya. Maka gagasan itu belum berkembang dan memerlukan studi mendalam. Proyek Australia-Jepang, telah mendorong perdagangan Pasifik dan melahirkan komunitas Pasifik 8. Pariwisata telah menjadi bagian yang memerankan proses transformasi melalui peningkatan transportasi tujuan wisata, dan wilayah kebangkitan. Jarak Pasifik yang sangat jauh menjadi diabaikan dengan lahirnya travel di Pasifik. Pariwisata menjadi kekuatan perdamaian, dan stabilitas politik menjadi hal yang penting dalam perkembangan pariwisata. 9. Daerah Asia Pasifik menjadi kawasan pariwisata yang perkembangannya paling cepat. Pada tahun 1950baru 0,75% maka pada tahun 1991 telah menjadi 11,48% kunjungan pariwisata dunia. Tahun 2008 akan mencapai 17,5% pada saat yang sama, sumbangan pariwisata ditahun 1950 baru 1,43%, maka ditahun 1980 saja sudah dua kali lipat, dan di tahun 1991 menjadi 14,69% (WTO : 1991). Tahun 2001 diperkirakan sudah diatas 20%. 10. Perjalanan jarak dekat intra-regional dalam Asia Timur dan Pasifik mengalami peningkatan tajam, Etnis Cina saja 78% dari jumlah pengunjung ke DTW pendapatan DTW karena pariwisata.

F. PERSAINGAN ANTAR NEGARA ASEAN 1. Jepang menjadi pembangkit pasar wisata terbesar, tercatat paling banyak wisatawannya berkunjung ke kawasan Pasifik. Negara Eropa banyak yang mengunjungi Korea dan Taiwan, sementara itu negara-negara di ASEAN mulai bangkit menata diri di tahun 1980an mulai ikut serta bersaing memperebutkan “roti pariwisata” 2. Meskipun banyak negara-negara ASEAN yang memburu wisatawan domestik, namun Taiwan dan China, melakukan promosi perjalanan ke luar negeri. 3. Perkembangan penerbangan berjalan seiring dengan investasi pariwisata, dan Jepang mulai investasi di bidang hotel. Transportasi lokal, produk-produk konsumsi pariwisata, sehingga pertumbuhan pariwisata internasional di kawasan itu seiring dengan pertumbuhan ekonomi Jepang 4. Sayang pertumbuhan komunitas Pasifik tidak menyebar secara merata, namun dibidang kepariwisataan, perkembangannya sesuai dengan investasi pariwisata. 5. Kesinambungan sekarang menjadi issue penting karena selain pariwaisata melahirkan dampak positif, tidak kurang pula lahir dampak negatif. Kerusakan lingkungan, penguatan sosial, ketidakmerataan ekonomi, pencarian bentuk baru dunia pariwisata, membawa perenungan tersendiri, lebih-lebih bagi negara yang akan mengembangkan kepariwisataan. Dengan perenungan ini maka diharapkan kerusakan sosial, kerusakan lingkungan dan lain sebaginya menjadi studi problematik yang harus selalu dipecahkan sesuai dengan dinamika perkembangan pariwisata. 6. Kajian publik administration, memberikan beberapa arahan yang perlu dicermati, yaitu : a. Sistem; b. Pola pikir; c. SDM Kepariwisataan sebagai aktor a. Sistem Selama ini banyak dari para penentu kebijakan dan pengambil keputusan yang tidak memahami sistem yang ada, yaitu bahwa pariwisata tidak akan mampu berkembang sendiri apabila tidak didukung oleh sektor yang lain. Sebagai suatu sistem di dalamnya ada komponen dan variabel yang saling berhubungan (interelasi) dan saling ketergantungan (interaksi) akibat “penyakit” egoisme sektoral dan “arogansi” institusional sulit disembuhkan. Juga penyakit koordinasi dan sinkronisasi, menjadi penyakit laten pada pembangunan pariwisata di Indonesia b. Pola pikir Egoisme dan arogansi sert akoordinasi dan sinkronisasi yang telah menjadi “penyakit” melahirkan pola pikir partial dan sektoral.Contoh: Kemampuan Singapura di tahun 1991 menggarap wisata konvensi dan tahun 2003 memulai EXPO TOURISM, adalah kehebatan Singapura membrantas penyakit egoisme, arogansi, kondisi, sinkronasi, melalui pemikiran yang integral. c. SDM Kepariwisataan sebagai aktor Sejak tahun 2003, banyak orang Indonesia yang “gandrung” Singapura, sebab memcu SDM Aktor Kepariwisataan SDM Kepariwisataan sebagai aktor, adalah faktor dominan tingkat keberhasilan pembangunan pariwisata. selama ini perhatian pemerintah sangat kurang, termasuk PEMDA Propinsi, Kab/Kota, sehingga meebiarkan SDM amatiran menggarap pariwisata. Jadi perlu pemikiran SDM yang : ~ terdidik ~ ahli ~ profesional ~ tatapan masa depan peroleh pelayanan yang sangat baik 7. Pariwisata adalah produk yang memiliki : a. The circle configuration b. The perspektive of businness enterprises. ( Dorojatun Kuncoro, 1996 ) Artinya : memiliki bentuk melingkar yang hidup dan merupakan bisnis dunia yang besar. Sementara WTO (2002) mencatat pertumbuhan pariwisata mengalami C. Pola penggarapan Tujuh fenomena yang menghadang pembangunan pariwisata belum mampu menyadarkan kita. Ketidaksadaran itu terjadi mungkin : a. Ketidaktahuan hakikat pariwisata b. Menganggap fenomena itu sebagai hal rutin atau biasa c. Pola pikir kit ayang tidak kreatif, sebab di Indonesia pariwisata masih menjadi urutan ke – 3 atau lebih d. Banyak pejabat / penentu kebijakan yang tidak memahami hakikat pariwisata 2. Dengan sinyalemen diatas, maka pola penggarapan pembangunan pariwisata masih : a. bersifat partial b. tidak lintas regional c. tidak diversitas, lebih-lebih kab/kota/propinsi d. melupakan segmen pasar sebagai usaha mendatangkan wisatawan 3. Kondisi penggarapan yang demikian sehingga kita harus berkata bahwa : “ An inner voice tell us, we are wrong if we are idle”. Jadi “we are wrong”, kita adalah salah. Hati kita harus berkata seperti itu, if we are idle, jika kita malas 4. Kajian management di abad XXI ini, oleh Tyler, Mayo, dan Maslow (1986), bahwa untuk memberantas “idle” (kemalasan) perlu ada : a. Reward – penghargaan karena orang yang diberi itu layak b. Approach -pendekatan sangat perlu untuk memberikan motivasi, spirit, interest, dsb c. Attention- perhatian yang obyektif pada tenaga kerja pariwisata yang kreatif, dinamis, inovatif dsb 5. Pemikiran ketiga ahli itu, perlu diadopsi, kalau kita ingin menjawab tantangan ketertinggalan dan kompetitif, dalam pertarungan dan pergumulan bisnis dunia pariwisata 6. Alur pikir diatas hendaknya dicoba untuk mengidentifikasikan kondisi dan potensi pariwisata. Kondisi dan potensi pariwisata yang melimpah ruah, tetapi tetap tertinggal, ibaratnya : Sang raksasa pariwisata tetap tidur lelah. Mengapa terjadi ? Peningkatan yang signifikan pada : ~ penyerapan tenaga kerja ~ peluang investasi ~ pembayar pajak terbesar Jadi disinilah diperlukan SDM yang kreatif, dinamis, profesional, ahli. Dan Indonesia harus kemana, bila ingin tidak ketinggalan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar